Minggu, 30 Maret 2014

Ternak Lebah

Lebah
Lebah adalah serangga yang berkelompok, meskipun tidak semua bersifat demikian. Lebah termasuk  dalam kelas Genus Apis dan insekta famili Apini. Lebah dapat di budidayakan untuk mendapatkan madu, dan madu memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang bisa memberikan keuntungan yang cukup besar. Dan di-kalimantan sendiri kemungkinan lebah dapat bertahan cukup besar karena merupakan daerah beriklim tropis.
Jenis-jenis Lebah madu yang terkenal di Indonesia
  1.  Apis Cerena / lebah lalat adalah lebah asli Asia. Lebah ini biasa bersarang didalam gua atau dicelah-celah bebatuan yang merupakan alam tertutup. lebah ini merupakan lebah yang bukan agresif atau jenis lebah yang tidak suka menyerang. lebah ini cukup produktif bisa mengahasilkan madu sekitar 10kg per koloni per tahun

  2.  Apis Mellifera adalah lebah asli benua Eropa. Lebah ini lebih besar dari lebah Apis Cerena, tapi lebih kecil dari lebah Apis Dorsata. Lebah ini memiliki sabuk kuning pada segmen pertama, kedua, dan ketiga. warna tubuh berpariasi dari coklat gelap hingga kuning hitam. Produksi madu lebah ini lebih besar dari lebah madu lainnya sekitar 30-60kg per koloni per tahun.

  3. Apis Dorsata atau lebah raksasa merupakan lebah hutan yang liar dan sukar untuk diternakan dan belum berhasil untuk diternakan. Lebah ini merupakan lebah yang agresif dan menyerang musuhnya secara berkawanan, lebah ini berukuran paling besar dari lebah lainnya dan memiliki warna gelap. lebah ini merupakan lebah penghasil madu paling produktif mencapai 20 kg perkoloni pertahun. madunya lebih encer daripada madu lebah lainnnya.

  4. Apis Florea adalah spesies lebah terkecil dari lebah madu lainnya. lebah ini merupakan lebah yang jarang dibudidayakan karena penghasil madu dan lilin terendah, madu yang dihasilkan berkisar 1-3 kg perkoloni pertahun. Lebah ini pada beberapa daerah dapat hidup bersama lebah lokal Apis Cerena dan Apis Dorsata. Sarang lebah ini melingkar pada pohon, biasanya berada pada rongga pohon dan gua.

     
 Lebah juga dibagi dengan peranan maing-masing. yaitu
  1. Lebah jantan (Drone) adalah lebah yang memiliki mata yang besar. Lebah ini lebih besar dari lebah pekerja, tetapi lebih kecil dari ratu lebah. Lebah ini warnanya kehitam-hitaman. Tugasnya hanya untuk mengawini ratu yang dewasa (belum pernah kawin). Lebah ini tidak memiliki selang penghisap madu dan bakul untuk menyimpan tepung sari.
  2. Lebah Ratu adalah lebah yang bertanggung jawab atas reproduksi dalam koloni lebahnya. Lebah ratu memiliki tubuh paling besar dari lebah lainnya yang ada dalam koloninya. Lebah ratu hanya ada 1 dalam sebuah koloni lebah. Tugasnya adalah mengebangbiakan koloninya dengan cara bertelur secara terus menerus. Lebah ratu makan royal jelly seumur hidupnya sehingga kebal terhadap penyakit.
  3. Lebah pekerja adalah lebah betina yang alat repruduksinya tidak sempurna. lebah ini paling kecil diantara lebah lainnya, tetapi paling banyak didalam koloninya. Lebah ini bertugas membuat sarang, mencari nectar, memberi makan kepada larva, menjaga sarang.


By: Jumain

Senin, 17 Maret 2014

Penyakit pada Kelinci

Menurut penelaah saya dan dari sumber yaqng saya dapat adapun beberapa penyakit yang terdapat pada kelinci, yaitu :
1. Pilek
 Gejalanya yaitu jika cuaca sering berganti tak menentu yang menyebabkan kelinci terkena influenza.
2. Mencret
Gejalanya jika kelinci terlalu banyak makan atau salah memberi pakan yang kurang bergizi sehingga menyebabkan kelinci mencret.
3. Kembung
Gejala kembung tidak berbeda jauh dengan gejala mencret namun kembung lebih dikarenakan kelinci terlalu banyak mengkonsumsi air.
4. Radang paru
gejala yang menyebabkan infeksi  radang paru yaitu bakteri pasteurella. Penyakit ini menular.
 5. Infeksi saluran kencing
Gejala infeksi saluran kencing ini disebabakan oleh parasit.
6.Kelumpuhan kaki belakang
Gejala kelumpuhan kaki belakang ini disebabkan oleh kaki kelinci patah akibat melompat dikarenakan kelinci dalam keadaan terkejut.
7. Kaki bengkok
Gejala kaki bengkok ini disebabkan oleh kelainan genetik pada kelinci.
8. Telapak kaki luka
Gejala  telaspak kaki luka dikarenakan  telapak kaki kelinci terlaluy sensitif sehingga jika terkena benda keras kakinya akan mudah untuk terluka.
9. Stress.
Gejala stress yang terjadi pada kelinci disebabkan oleh situasi dan lingkungan yang membuat kelinci merasa tidak nyaman dan takut.

Beikut pencegahan terhadap penyakit pada kelinci tersebut :
1. Berilah ventilasi yang cukup untuk setiap kandang kelinci. Bentuk kandang yang tertutup dengan alas kawat akan mengakibatkan ventilasi udara mengalir dari bawah keatas dan jenis ventilasi seperti ini adalah tidak disukai kelinci.
2. Jagalah selalu kandang kelinci Anda bersih dan tetap kering, perhatikan kebersihan tempat makan dan minumnya, hal ini dapat mencegah dan meminimalisir penyebaran kuman penyakit.
3.  Lindungilah kelinci Anda dari lingkungan yang dapat membuat kelinci terganggu (misal daerah yang bising, berasap, perubahan temperature yagn ekstrim jika dipelihara diruang terbuka, dll), hewan-hewan pengganggu/pencari mangsa (kucing, tikus, anjing, musang, dll). Faktor-faktor ini dapat membuat kelinci anda stress.
Riko :1303055185

Minggu, 16 Maret 2014


Budidaya Entok
BUDIDAYA ENTOK
Ternak itik memiliki peran besar dalam pemenuhan protein hewani. Selain sebagai penghasil telur, itik juga dikenal sebagai penghasil daging. Salah satu itik pedaging yang mulai berkembang dan banyak diminati saat ini adalah jenis itik-entok yang merupakan hasil perkawinan silang itik betina petelur dan entok jantan melalui inseminasi buatan. Budidaya entok untuk penghasil daging mempunyai beberapa keunggulan, yakni pertumbuhannya cepat, mempunyai bobot potong yang lebih besar, rasanya dagingnya tidak amis dan gurih (sebelum atau sesudah dimasak), tekstur daging yang lebih empuk, biaya produksi yang rendah karena entok pemakan segala, serta kadar lemak yang dimiliki rendah yakni hanya 1% pada area dada dan 1,5 % pada area paha. Bandingkan dengan ayam broiler yang mana lemaknya terdiri atas 6,8% pada bagian paha dan 1,3% pada bagian dada. Selain itu, entok memiliki masa pemeliharaan yang relatif pendek yakni sekitar 8 – 10 minggu saja, dimana dalam jangka waktu tersebut entok sudah mencapai bobot sekitar 2,5 kg/ekor.
Perencanaan budidaya entok
Untuk memulai usaha tertentu, diperlukan perencanaan matang agar usaha tersebut bisa berjalan lancar. Demikian juga dengan usaha budidaya entok, yang mana diperlukan berbagai persiapan sebelum mulai terjun di dalamnya. Beberapa hal yang perlu ditentukan sebelum anda memulai usaha budidaya entok diantaranya sebagai berikut:
1) Menentukan tujuan budidaya
Jika entok dibudidayakan secara intensif atau dijadikan sumber penghasilan yang utama, maka bila memungkinkan kembangkan usaha budidaya entok ini untuk memenuhi permintaan dari luar daerah. Tetapi bila  usaha budidaya entok hanya dijadikan usaha sampingan saja, maka cukup fokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan usahakan tidak mengeluarkan banyak modal serta batasi tenaga kerja.
2) Menentukan lokasi
Beternak entok bisa diterapkan hampir di seluruh daerah, bisa di area pantai, daerah berbatu maupun berumput, atau di pegunungan. Namun, agar memperoleh hasil yang cukup optimal, peternak perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: 
Usahakan memilih lokasi yang jauh dari kebisingan karena entok tidak menyukai keramaian. Lokasi pemeliharaan seperti ini bisa membuat induk entok enggan untuk bertelur. 
Lokasi beternak harus terpisah dari area pemukiman penduduk, sebab entok menghasilkan bau yang kurang sedap. 
Usahakan lokasi pemeliharaan entok dekat pada sumber air. Komposisi tubuh entok hampir 75% terdiri atas air. Bobot entok menunjukkan jumlah konsumsi air entok tersebut.
Apabila anda menerapkan sistem intensif dalam budidaya entok, pembuatan kandang harus mempertimbangkan ventilasi yang cukup. 
3) Akses listrik, jalan, dan telepon
Listrik sangat menunjang kelancaran budidaya entok. Listrik bisa dimanfaatkan sebagai penghangat bagi anak tiktok, penggerak pompa air, maupun untuk sumber penerangan. Akses jalan juga sangat penting bagi kelangsungan usaha budidaya tiktok, karena bermacam aktivitas dilakukan melewati akses jalan tersebut. Sebagai contoh, pengiriman daging dan bahan baku pasti memanfaatkan fasilitas jalan. Sedangkan telepon dapat digunakan untuk sarana komunikasi dengan konsumen maupun penyedia bahan pakan.
4) Kondisi lingkungan masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat sekitar sangat mempengaruhi usaha budidaya entok. Interaksi dan komunikasi dengan masyarakat sekitar harus terjaga dengan baik untuk menghindari kemungkinan munculnya hambatan dari masyarakat. Misalnya, masyarakat setempat bisa jadi tidak memberikan izin penggunakan lokasi untuk usaha budidaya entok terkait bau yang dihasilkan entok. Oleh sebab itu, peternak perlu memperhatikan kondisi masyarakat sekitar. Bila peternak membutuhkan tenaga tambahan, alangkah baiknya mengambil pekerja tambahan dari lingkungan tersebut. Selain ikut memberdayakan masyarakat sekitar lokasi, tenaga kerja setempat juga dapat membantu menjaga keamanan lokasi budidaya.
5) Menetapkan sistem pemeliharaan

a. Pemeliharaan tradisional
Pemeliharaan tradisional ditempuh dengan sistem integrasi atau menggembalakan entok pada hamparan sawah. Pemeliharaan tradisional melalui sistem integrasi entok dan padi sawah akan semaki efektif jika padi ditanam menggunakan mekanisme jajar legowo. Mekanisme jajar legowo ini dapat memberikan cukup ruang bagi entok untuk beraktivitas khususnya dalam mencari makan pada lahan persawahan itu.
Keuntungan lain yang diperoleh dari keberadaan entok di sawah yakni membantu pemupukan terkait kotoran yang dikeluarkan entok, meningkatkan kandungan oksigen tanah dan meminimalkan keberadaan gulma, rumput, atau hama seperti siput, keong mas, dan serangga karena entok akan memakannya. Selain itu, pakan entok dapat dikurangi sebab entok sudah mendapat tambahan makanan dari gulma, rumput, siput, keong mas, dan serangga dari sawah.
b. Pemeliharaan secara semi intensif
Pemeliharaan semi intensif dilakukan dengan mengagon / menggembalakan dan mengandangkan entok. Entok muda dipelihara melalui metode penggembalaan, selanjutnya ketika sudah siap panen, barulah entok dikandangkan dan diberikan pakan ramuan sendiri. Pengandangan entok dimaksudkan agar entok tidak banyak beraktivitas sehingga penggemukan bisa dihasilkan. 
c. Pemeliharaan secara intensif
Pemeliharaan entok secara intensif ditempuh melalui pengandangan dan tidak disertai penggembalaan selama pemeliharaannya. Sistem pemeliharaan intensif merupakan gabungan dari pemanfaatan manajemen usaha, teknologi, serta efisiensi. Teknologi disini maksudnya adalah mengandangkan entok sehingga pengontrolan kondisi kesehatan entok bisa lebih ditingkatkan. Sedangkan manajemen usaha terkait dengan pengandangan entok dan pemberian pakan yang lebih terkontrol, sehingga dapat dilakukan penghematan biaya produksi. Efisiensi maksudnya adalah penghematan lahan karena pembuatan kandang bisa dibentuk secara bertingkat.
Pemeliharaan entok secara intensif dikelompokkan menjadi dua tahap, yakni starter dan grower-finisher. Entok dalam tahap starter (usia 0-3 minggu), perlu diberikan asupan pakan yang memiliki kandungan nutrisi sesuai kebutuhan ternak. Selain itu, diperlukan juga penerangan di malam hari dan pembuatan kandang berbentuk panggung agar entok tidak kedinginan. Untuk kepadatan entok tiap meter persegi kandang adalah 14-20 ekor.
Teknis budidaya entok
1) Pengadaan bibit
Pengadaan bibit entok dilakukan melalui penyilangan entok jantan dan itik betina. Pengawinan entok jantan (dengan bobot sekitar 5 kg) dan itik betina (bobot sekitar 1,5 kg) selanjutnya menghasilkan entok dengan bobot minimal seberat 3 kg. Sementara pengawinan itik jantan (bobot rata-rata 1 kg) dengan entok betina (bobot rata-rata 1.5 kg) hanya menghasilkan itik berbobot 1 kg saja. Kawin silang ini pada praktek sebenarnya susah dilakukan, mengingat bobot dan ukuran entok jantan jauh lebih berat dan besar dibandingkan itik betina. Sehingga, pengawinan silang itik dan entok tersebut biasanya dilakukan melalui kawin suntik / inseminasi buatan.
2) Penyediaan pakan
Untuk budidaya entok secara intensif, ketersediaan pakan seringkali menimbulkan masalah karena hampir semua peternak masih bergantung pada pakan pabrik, dimana persentase penyediaan pakan ini mengambil porsi sekitar 60-70 % dari total biaya produksi. Pemberian pakan pada sistem intensif terbagi menjadi dua kelompok yakni pakan untuk starter serta finisher / grower. 
Ransum untuk entok dapat diramu melalui pencampuran bahan limbah perikanan, pertanian, dan pakan pabrikan (jenis pur dan konsentrat). Untuk jenis limbah perikanan atau pertanian contohnya adalah menir, dedak padi, bungkil kelapa, jagung giling, kepala udang, keong mas, dan ikan rucah segar. Komposisi ransum untuk kelompok starter yakni menir dan pur komersial dicampur dengan perbandingan 1:2, sementara untuk kelompok grower bisa menggunakan formula berikut; pakan kelompok starter kurang lebih 20-40 gram/ekor/hari sebanyak 3-4 kali, atau 40-60 gram/ekor/hari sebanyak 2-3 kali.
3) Bobot tubuh entok
Peningkatan bobot entok terjadi sangat cepat. Dengan asupan pakan yang memadai dan berkualitas, bobot entok berusia 10 minggu bisa mencapai sekitar 2,5 kg. Bobot rata-rata entok yang berumur 5 minggu sekitar 1.229,49 gram/ekor (dengan bobot awal sekitar 40,03 gram), sedangkan entok berusia 10 minggu bobotnya sekitar 1.154-2.076 gram/ekor (dengan bobot awal sekitar 502,4-734,3 gram).
4) Penyakit entok dan pencegahannya
Entok sebenarnya cukup tahan terhadap serangan penyakit, mengingat daya adaptasinya yang sangat baik terhadap kondisi perubahan lingkungan. Namun, ada beberapa penyakit yang ditemukan pada entok akibat tidak berfungsinya faktor-faktor utama penunjang budidaya entok, seperti masalah sanitasi, manajemen, biosecurity, maupun perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh suhu dan cuaca.
Jenis-jenis penyakit tersebut diantaranya sallmonellosis (disebabkan oleh bakteri S. entritidis dan Salmonella typhimurium); botulismus (disebabkan bakteri Clostridium botulinum); fowl pox, fowl cholera, avian chlamydiasis, coccidiosis, avian influenza, dan sebagainya. Untuk pencegahan penyakit-penyakit ini biasanya ditempuh dengan cara memperbaiki sanitasi kandang, peningkatan kualitas pakan, dan pemberian vaksinasi. Sedangkan ternak yang telah terserang bisa diberikan antibiotik semisal Furasolidine, Sulfadimidin, Spreptomycin, Tetramysin, dan Oxytetrasiklin.

Senin, 10 Maret 2014

CARA MEMLIHARA ANAK KELINCI  

 

hal terpenting yang perlu diperhatikan terhadap kelinci yang baru lahir yaitu
1. Pemeriksaan terhadap anak kelinci
2. Menjaga keselamatan anak kelinci
3. Memindahkan anak kelinci yang terlampau banyak/induk yang tidak mau menyusui.
 Pemeriksaan terhadap anak kelinciSetelahdua hari induk melahirkan, maka kita perlu melakukan pengecekan terhadap anak kelinci. Apakah kondisi anak yang baru lahir kondisi sehat, cacat atau mati . Anak kelinci yang mati harus segera diambil karena akan menimbulkan penyakit. Pada saat melakukan pemerikasaan supaya induk tidak takut dan marah, sebaiknya induk diberikan makanan untuk mengalihkan perhatian sehingga induk menjadi tenang. Menjaga Keselamatan anak kelinciSupaya keselamatan anak kelinci terjamin perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini :
• Disiapkan kotak sarang yang sempurna , sehingga anak kelinci akan terlindung dengan aman terhadap panas, dingin dan tiupan angin. Kotak sarang digunakan induk saat melahirkan, dimana pada usia 9-10 hari anak kelinci belum berbulu dan matanya masih menutup. Pada usia 19-20 hari anak kelinci baru mau meninggalkan sarang dan ikut makan rumput bersama induk kelinci
• Anak kelinci harus terlindung dari induk yang kadang kanibal yaitu induk yang makan anaknya sendiri. Hal ini disebabkan karena induk merasa panas dan haus . Untuk mencegah induk kanibal harus selalu disediakan makanan hijauan yang segar dan minuman yang cukup.Memindahkan anak kelinci yang terlampau banyak/induk yang tidak mau menyusuiInduk kelinci yang produktif akan melahirkan anak kelinci antara 6-8 ekor , bahkan ada yang 12 ekor. Bagaimana dengan anaknya 12 ekor sementara puting induk hanya 8 ? supaya anak kelinci dapat tumbuh dengan bagus, alangkah baiknya kelebihan anak tersebut dapat dititipkan dengan induk yang lain yang waktunya bersamaan melahirkan Hal ini juga dapat diterapkan pada induk yang tidak mau menyusui anaknya.Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat menitipkan anak kelinci pada induk yang lain:
• Usia anak kelinci yang dititipkan dengan anak kelinci induk yang dititipi harus sama/sebaya , maksimal jarak kelahiran 4 hari
• Jumlah anak kelinci yang dititipkan jangan melebihi kemampuan induk kelinci yang dititipi
• Untuk mencegah induk yang dititipi tidak mau merawat anak kelinci yang dititipkan, sebaiknya semua anak kelinci yang diolesi /diberi bau-bauan seperti minyak kayu putih atau yang lain. Hal ini supaya bau anak kelinci dengan anak kelinci yang dititipkan sama)

riko ;1303055185

Jumat, 07 Maret 2014

Teknik beternak sapi yang unggul

Mengawinkan Sapi Betina

Mengawinkan Sapi Betina
Sapi yang baru melahirkan akan memperlihatkan tanda-tanda birahi setelah anak berumur 5-6 minggu. Pada saat itu menurut Yuniati, Pejabat Fungsional Pengawas Bibit Ternak Ahli Madya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebaiknya perkawinan ditunda karena jaringan alat reproduksinya belum kembali normal. Dan sapi dapat dikawinkan kembali sebaiknya setelah 60-90 hari setelah melahirkan (birahi ke-2 atau ke-3).
Berikut ini tips dari Yuniati yang juga rekomendasi dari Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Potong Padang Mangatas Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, agar perkawinan sapi dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil kebuntingan.
Dewasa kelamin dan dewasa tubuh
Peternak lebih dahulu perlu mengetahui tentang dewasa kelamin dan dewasa tubuh sapi yang hendak dikawinkan. Dewasa kelamin adalah saat di mana alat reproduksi seekor ternak sapi mulai berfungsi dan menghasilkan sel-sel kelamin. Sedangkan dewasa tubuh adalah di mana pertumbuhan otot-otot tubuh berkembang dengan baik dan sempurna. Oleh karena itu waktu (saat) mengawinkan ternak sapi yang baik untuk pertama kalinya adalah pada waktu ternak sapi tersebut telah dewasa kelamin dan dewasa tubuh yaitu pada umur antara 15-18 bulan.
Seekor ternak sapi baik dara maupun induk di saat menjelang birahi akan melalui 4 (empat) tahap yaitu: pertama, pro oestrus. Tahap ini berlangsung 1-2 hari di mana folikel primer pada ovarium menghasilkan testoteron (hormon jantan) yang menyebabkan sapi betina berperilaku seperti sapi jantan. Di saat ini sapi betina memperlihatkan tingkah laku seperti menaiki temannya, diam jika dinaiki, gelisah dan agresif, menanduk dan melenguh.
sapi betina produktif
sapi betina produktif
Kedua, Oestrus. Masaknya folikel dalam ovarium dan sel-sel epitel yang mengelilingi folikel tersebut akan memproduksi hormon estrogen dan saat ini sapi memperlihatkan tanda-tanda seperti melenguh, gelisah, manaiki kawannya, diam jika dinaiki sapi lainnya dan keluar lendir dari vulva, serta vulva tampak membengkak.


PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI DENGAN SISTEM PERKAWINAN INSEMINASI BUATAN (IB)

Oleh : Sabir Tato (Widyaiswara BBPP Batu)
Peternak sapi di Indonesia sebagian besar masih dalam usahatani ternak sapi secara tradisional bahkan dianggap sebagai tabungan serta usaha sampingan. Disisi lain produktivitas ternak sapi potong maupun sapi perah beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan  menurun. Sementara di lain pihak pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan rata-rata 1,5 persen per tahun dan pertumbuhan ekonomi meningkat dari 2 sampai 6 persen, maka diperkirakan permintaan daging dan susu akan terus meningkat.
Keadaan seperti ini bila tidak dilakukan upaya untuk meningkatkan populasi dan produksi, maka tidak akan dapat memenuhi permintaan kebutuhan daging dan susu sapi dalam negeri. Oleh karena itu diperlukan upaya memotivasi peternak dalam pemeliharaan ternak yang lebih maju dan menguntungkan melalui pembinaan yang dapat meyakinkan. Pemeliharaan ternak bukan bukan lagi hanya dianggap sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan, melainkan sudah dikelola dengan baik menuju kearah yang lebih maju dangan harapan peternak dapat mengerti dan menyadari arti pentingnya produktivitas ternak.
Untuk menyikapi hal tersebut, salah satu upaya untuk meningkatkan  populasi dan produktivitas ternak sapi dapat dilakukan melalui kawin suntik yang dalam bahasa ilmiahnya adalah Artificial Insemination atau Inseminasi Buatan (IB). Hal tersebut adalah sebagai salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak, sehingga dapat menghasilkan keturunan/ pedet dari bibit pejantan unggul yang sekaligus dapat program swasembada daging 2010 yang dicanangkan oleh Presiden  Republik Indonesia pada tanggal 6 April 2007 di Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat sebagai tindak lanjut Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
Inseminasi Buatan
Inseminasi Buatan (IB) atau dalam istilah ilmiahnya  disebut Artificial Insemination (AI) merupakan  sistem perkawinan pada ternak sapi secara buatan yakni suatu cara atau teknik memasukkan sperma atau semen kedalam kelamin sapi betina sehat dengan menggunakan alat inseminasi yang dilakukan oleh manusia (Inseminator) dengan tujuan agar sapi tersebut menjadi bunting. Semen adalah mani yang beradal dari sapi pejantan unggul yang dipergunakan untuk kawin suntik atau inseminasi buatan.
Inseminator
Inseminator merupkan petugas yang  telah dididik dan lulus dalam latihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik serta memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi (SIMI). Selain inseminator dari  pemerintah ada juga inseminator mandiri yang berasal dari khalayak peternak atau masyarakat yang telah memperoleh pelatihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik.
Tujuan Inseminasi Buatan
Tujuan perkawinan sapi dengan sistem inseminasi buatan adalah:
Meningkatkan mutu ternak lokal;
Mempercepat peningkatan populasi ternak;
Menghemat penggunaan pejantan:
Mencegah adanya penularan penyakit kelamin akibat perkawinan alam;
Perkawinan silang antar berbagai bangsa / ras dapat dilakukan.
Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
Sistim perkawinan sapi dengan IB adalah Salah satu strategi yang perlu dilakukan untuk mewujudkan tercapainya program swasembada daging 2010 dan kecukupan susu nasional, dapat dilakukan melalui percepatan peningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi dengan menyediakan bakalan dalam rangka penggemukan sapi potong dan bibit sapi perah, melalui penyediaan bakalan atau keturunan dari hasil kawin suntik dengan menggunakan semen dari sapi pejantan unggul yang memenuhi syarat teknis reproduktif, maupun kesehatan , atau telah lulus dari uji ferformans dan uji zuriat oleh instansi yang berwenang.
Melalui kegiatan kawin suntik atau inseminasi buatan, penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah, mudah dan cepat, serta memudahkan peternak untuk mendapatkan keterunan ternak sapi yang berkualitas genetik tinggi dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas ternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak.
Dalam kegiatan kawin suntik pada ternak sapi ini memberikan beberapa keuntungan  antara lain; (1) menghemat biaya pemeliharaan pejantan; :biaya relatif murah untuk mendapatkan bibit sapi yang bagus /unggul dalam bentuk semen, jadi tidak perlu membeli sapi pejantan yang harganya relatif mahal; (2) dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;(3) mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina; (4) dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang baik sehingga sperma /semen dapat disimpan dalam janka waktu lama; (5) semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun  kemudian walaupun pejantan telah mati; (6) cepat menghasilkan pedet jantan yang dapat dimanfaatkan untuk bakalan sapi potong atau pedet betina sebagai bibit sapi perah; (7) menghasilkan generasi baru anak bakalan penghasil daging yang berkualitas  (sapi potong)  dan meningkatklan produksi susu pada sapi perah betina; (8) Perbaikan mutu genetik lebih cepat;; (9) Dapat memilih jenis/bangsa ternak Sapi  yang diinginkan ( Limousin, Simental, Peranakan Ongole, Brahman, Brangus, FH, Bali dan lain-lain); (10) Berat lahir lebih tinggi dari pada hasil kawin alam; (11)  Pertumbuhan berat badan lebih cepat; (12)  Meningkatkan Pendapatan Petani.
  • Berat Lahir Rata-rata Sapi hasil IB dibandingkan dengan Sapi Lokal

Kunci Keberhasilan Program IB
Kunci keberhasil program IB tergantung dari 3 unsur yaitu:
1)  Kinerja inseminator,
Kinerja  Inseminator sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program IB dilapangan, untuk itu seorang inseminator perlu menjiwai tugas dan tanggung jawabnya  yaitu; (1) melakukan identifikasi akseptor IB (sapi betina produktif) dan mengisi kartu peserta IB; (2) membuat program / rencana birahi ternak akseptor berdasarkan siklus birahi  (kalender reproduksi) di wilayah kerjanya; (3) melaksanakan IB pada ternak; (4) membuat pencatatan (recording) dan laporan pelaksanaan IB dan menyampaikan kepada pimpinan Satuan Pelayanan IB melalui pemeriksaan kebuntingan  (PKB) setiap bulan; (5) melaksanakan pembinaan kelompok tani ternak atau Kelompok Peternak Peserta Inseminasi Buatan  (KPPIB) dan kader inseminator; (6) membentuk kegiatan pengorganisasian pelayanan IB./ Unit Pelayanan Inseminasi Buatan (ULIB) (7) berkoordinasi dengan petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB)  dan Asisten teknis Reproduksi (ATR)
2)  Kondisi Akseptor
Agar program kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) dapat berhasil dengan baik, kondisi Akseptor (sapi betina produktif peserta IB) perlu diperhatikan. Adapun kondisi akseptor yang baik adalah:
-    Sehat, Fisik besar dan kuat,
-   Ambing besar dan elastis,
-    Puting sempurna (4 bh) dan letaknya simetris dan agak panjang.
-   Perut besar
-  Tulang pinggul lebar
-   Vulpa besar, licin. Mengkilat, cembung dan tidak berbulu,
Umur minimal 18 bulan
Untuk sapi yang berbadan kecil seperti sapi bali, IB  sebaiknya  dilakukan setelah  kelahiran anak pertama hasil perkawinan  secara alami.
Untuk sapi yang telah melahirkan, perkawinan selanjutnya dilakukan setelah 2-3 bulan kemudian.
3) Peternak
Untuk mendukung terlaksananya program IB, peran para peternak sapi  sangat dibutuhkan terutama dalam hal :
-  deteksi birahi / pengenalan terhadap tanda-tanda birahi
- sistim pelaporan yang tepat, terutama laporan birahi kepada inseminator
-  perawatan akseptor dan pedet hasil IB
4)  Kelompok Peternak Peserta IB (KPPIB)
Keberadaan KPPIB dalam pelaksanaan program IB sangat diperlukan guna mempermudah arus informasi dan teknologi, penyediaan sarana dan prasarana IB seperti Kandang penanganan (kandang jepit) dan lain sebagainya.
Saat ini kegiatan kawin suntik pada ternak sapi telah banyak dilakukan secara swadaya, sehingga untuk mendapatkan pelayanan kawin suntik pada ternak sapi, peternak dapat membiayai sendiri. Sedangakn untuk mendapatkan informasi pelayanan kawin suntik pada ternak sapi dapat menghubungi inseminator yang berada di wilyah setempat, dan apabila tidak ada inseminator dapat meminta informasi baik kepada dokter hewan/mantri hewan/ penyuluh pertanian setempat maupun ke dinas peternakan kabupaten /kota atau dinas yang membidangi peternakan.
Pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi sebaiknya dilakukan secara terorganisir dalam kelompok untuk memudahkan pelaksanaan secara efisien dan efektif. Untuk menyikapi hal ini , sebelum pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi harus mensinkronkan birahi sapi-sapi yang akan dikawin suntik dapat dilakukan lebih dahulu dengan penyuntikan hormon prostaglandin, Reprodin atau semacamnya  pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sapi secara serempak sehingga dapat dilakukan kawin suntik pada ternak sapi di kelompok tani ternak secara bersamaan.
Untuk memudahkan petani peternak mengetahui ternak sapinya birahi dan segera dapat melaporkan ke inseminator atau penyuluh untuk mendapat pelayanan kawin suntik secara tepat , ada beberapa tanda-tanda birahi yang perlu diketahui oleh peternak antara laiin: (1) sering menguak; (2) gugup dan agresif; (3) menaiki sapi lain; (4) kurang nafsu makan dan kurang menghasilkan susu; (5) lebih awal bangun dari sapi-sapi lainnya; (6) alat kelamin betina basah, bengkak, merah, hangat (Abuh, Abang, Angat yang disingkat 3 A)  dan mengeluarkan lendir yang transparan.
Dalam mewujudkan keberlanjutan kegiatan kawin suntik pada ternak sapi yang lebih menguntungkan dan penanganan khusus peranakan sapi unggul, selain diperlukan peran aktif inseminator dan petugas Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi Peternakan dalam pembinaan kelompok tani ternak diperlukan juga peran aktif para penyuluh pertanian sebagai mitra petani.
Peran Penyuluh Pertanian dalam mensukseskan program kawin suntik atau inseminasi buatan, antara lain: (1) memotivasi peternak agar terorganisir dalam kelompok, untuk medahkan baik penyuntikan hormon prostaglandin/ Reprodin  pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sehingga  dapat dilakukan pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi secara bersamaan; (2) memberikan informasi cara-cara beternak sapi potong dan sapi perah yang baik termasuk pemberian pakan yang bermutu sesuai  kebutuhan ; (3) memberikan informasi cara penenganan kesehatan anak dan induk sapi untuk mengoptimalkan pertumbuhan/ pertambahan berat badan pada ternak sapi potong dan produksi susu pada ternak sapi perah betina.
Waktu Inseminasi Buatan (IB)  yang tepat
Pada umumnya, lama birahi pada sapi adalah rata-rata 18 jam dan untuk mendapatkan hasil yang baik,  sebaiknya dilakukan IB pada pertengahan masa birahi.

WAKTU YANG TERBAIK MENGAWINKAN SAPI / IB

BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

1. SEJARAH SINGKAT
Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.
2. SENTRA PETERNAKAN
Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.
Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.
3. J E N I S
Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).

Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.
Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.
Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.
4. MANFAAT
Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.
Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan
3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.
5. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

1) Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing
sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan
tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.
2) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m.
3) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.
Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.
6.2. Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
2) Matanya tampak cerah dan bersih.
3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.
Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
2) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
3) laju pertumbuhannya relatif cepat.
4) efisiensi bahannya tinggi.
6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
2. Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.
Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.
Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.
Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
3. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
7.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
8.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.

9. PASCA PANEN
9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.

9.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
9.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.

Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.

Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).
Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %
Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp. 48.750.000,-
b. Kandang Rp. 1.000.000,-
c. Pakan
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,-
d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-
2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan >Rp. 75.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-
2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg
Rp. 111.110.000,-
b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp. 1.095.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-
3) Keuntungan
a. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. Rp. 42.897.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
a. B/C ratio = 1,61
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.
Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :
a) Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.
Sumber :
Balai Penyuluh Kecamatan Tayu Kab.Pati

Selasa, 04 Maret 2014

Beternak Ikan Lele

BUDIDAYA IKAN LELE






Lele merupakan ikan yang banyak beraktifitas pada malam hari, sedangkan pada malam hari ikan lele lebih banyak berdiam diri. Ikan lele tergolong OMNIVORA yaitu pemakan segalanya, ikan lele makan semua makanan yang ditemuinya. Namun ikan lele terbiasa makan makanan yang diberikan setiap hari. Ikan lele memiliki ukuran tubuh yang sangat bervariasi, ikan lele yang biasa dikonsumsi memlki ukuran tubuh yang tidak terlalu besar, yang biasa dijual dipasar dari ukuran besar antara 5 s/d 8 ekor per Kg dan yang kecil 11 s/d 12 ekor per Kg.

Minggu, 02 Maret 2014

Cara Beternak Ayam

  1. Ayam Pedaging
    Adalah ayam ras yang pertumbuhannya sangat singkat (5-6) minggu sudah memiliki tubuh yang besar seahingga dapat dipanen untuk diambil dagingnya. adapun cara baternaknya yaitu:
    Dalam Pemilihan bibit
      Bibit yang baik adalah bibit yang memiliki bentuk tubuh bulat, warna bulu bersih dan mengkilat, paruh bersih, anus bersih, dan aktif bergerak.
    Perawatan ayam pedaging
    *  Minggu pertama, bibit ayam dipindahkan kepemanas (suhu 32-34 0C) dan diberikan pakan 13g per ekor, dan berikan minuman yang dicampur dengan Vitamin Teranak Alami(VITERNA) sesuai dosis (1 cc/liter). pada hari keempat lakukan vaksinasi dengan vaksin ND Strain B1.
    *  Minggu kedua, suhu pemanas dikurangi (suhu 27-29 0C), berikan pakan 33g per ekor, dan minuman masih tetap diberikan VITERNA dengan dosis yang sama pada minggu pertama.
    *  Minggu ketiga, suhu pemanas dikurangi (suhu 25-26 0C)/di matikan pada siang hari jika matahari terik. Takaran pakan 48g per ekor, dan pada hari ke-21 dilakukan vaksinasi kedua dengan vaksin ND Lasotta dengan cara disuntik/dicampur dengan air minum ternak bersamaan dengan VITERNA.
    *  Minggu keempat, suhu pemanas dimatikan pada siang hari dikurangi pada malam hari (suhu 23-24 0C), Takaran pakan 65g per ekor. Dilakukan pengecekaan bobot ternak, bobot rata-rata ternak yang baik pada akhir minggu adalah 1,25kg per ekor. Air minum tetap diberikan VITERNA.
    *  Minggu kelima, sama dengan minggu keempat pemanas hanya digunakan pada malam hari (suhu 21-23 0C), Takaran pakan 88g per ekor. pada hari terakhir minggu ini dilakukan lagi pengecekan bobot, bobot yang baik yaitu 1,8-2kg per ekor. Lantai kandang harus diperhatikan karena kotoran yang dikeluarkan sangat tinggi. Dengan bobot tersebut ayam sudah siap di panen.
    *  Minggu keenam, minggu ini ayam diternakan hanya untuk menambah berat badan ayam ternak. Akan tetapi minggu ini yang harus diperhatikan adalah lantai kandang karena kotoran ayam yang dikeluarkan sangat tinggi.
  2. Ayam Petelur.
    Pemilihan Bibit
      Pemilihan Induk yang unggul dapat mengahasilkan bibit yang baik. Yaitu:
    -  Pertumbuhan badan sangat bagus
    -  Memiliki nafsu makan yang baik
    -  Bulu terlihat halus dan bersih
    -  Daya tahan terhadap penyakit sangat kuat
    -  Tubuh tampak sehat dan tidak memiliki cacat
    -  Konvensi Ransum rendah.
    -  Memproduksi telur yang banyak.
    Perawatan Ayam Petelur
      Perawatan terbagi menjadi dua fase (fase starter dan fase finisher)
    *  Fase starter (minggu ke-1 sampai minggu ke-4), pakan pada minggu ke-1 dengan takaran 17g per ekor dalam sehari. Pakan pada minggu ke-2 dengan takaran 43g per ekor dalam sehari. Minggu ke-3 dengan takaran 66g per ekor dalam sehari. Dan minggu ke-4 dengan takaran 91g per ekor dalam sehari. Dengan kandungan Gizi pakan yaitu, Protein 22-24%, Lemak 2,5%, Serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor 0,7-0,9%, ME (Energi) 2200-3500 Kcal.
    * Fase finisher (minggu ke-5 sampai ke-8), Pakan pada mingguke-5 111g per ekor/sehari, pada minggu ke-6 129g per ekor/sehari, minggu ke-7 takaran pakan 146g per ekor/sehari, minggu ke-8 dengan takaran pakan 161g per ekor/sehari. Dengan kandungan Gizi yaitu, Protein 18,1-21,2%, Lemak 2,5%, Serat Kasar 4,5%, Phospor 0,7-0,9%, ME (Energi) 2900-3400 Kcal.





    By: Jumain