Mengawinkan Sapi Betina
Posted by carabudidaya.com in peternakan
Sapi
yang baru melahirkan akan memperlihatkan tanda-tanda birahi setelah
anak berumur 5-6 minggu. Pada saat itu menurut Yuniati, Pejabat
Fungsional Pengawas Bibit Ternak Ahli Madya Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan sebaiknya perkawinan ditunda karena
jaringan alat reproduksinya belum kembali normal. Dan sapi dapat
dikawinkan kembali sebaiknya setelah 60-90 hari setelah melahirkan
(birahi ke-2 atau ke-3).
Berikut ini tips dari Yuniati yang juga rekomendasi dari Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Potong Padang Mangatas Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, agar perkawinan sapi dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil kebuntingan.
Dewasa kelamin dan dewasa tubuh
Peternak lebih dahulu perlu mengetahui tentang dewasa kelamin dan dewasa tubuh sapi yang hendak dikawinkan. Dewasa kelamin adalah saat di mana alat reproduksi seekor ternak sapi mulai berfungsi dan menghasilkan sel-sel kelamin. Sedangkan dewasa tubuh adalah di mana pertumbuhan otot-otot tubuh berkembang dengan baik dan sempurna. Oleh karena itu waktu (saat) mengawinkan ternak sapi yang baik untuk pertama kalinya adalah pada waktu ternak sapi tersebut telah dewasa kelamin dan dewasa tubuh yaitu pada umur antara 15-18 bulan.
Seekor ternak sapi baik dara maupun induk di saat menjelang birahi akan melalui 4 (empat) tahap yaitu: pertama, pro oestrus. Tahap ini berlangsung 1-2 hari di mana folikel primer pada ovarium menghasilkan testoteron (hormon jantan) yang menyebabkan sapi betina berperilaku seperti sapi jantan. Di saat ini sapi betina memperlihatkan tingkah laku seperti menaiki temannya, diam jika dinaiki, gelisah dan agresif, menanduk dan melenguh.
Kedua, Oestrus. Masaknya folikel dalam ovarium dan sel-sel
epitel yang mengelilingi folikel tersebut akan memproduksi hormon
estrogen dan saat ini sapi memperlihatkan tanda-tanda seperti melenguh,
gelisah, manaiki kawannya, diam jika dinaiki sapi lainnya dan keluar
lendir dari vulva, serta vulva tampak membengkak.

Kunci Keberhasilan Program IB
Berikut ini tips dari Yuniati yang juga rekomendasi dari Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Potong Padang Mangatas Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, agar perkawinan sapi dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil kebuntingan.
Dewasa kelamin dan dewasa tubuh
Peternak lebih dahulu perlu mengetahui tentang dewasa kelamin dan dewasa tubuh sapi yang hendak dikawinkan. Dewasa kelamin adalah saat di mana alat reproduksi seekor ternak sapi mulai berfungsi dan menghasilkan sel-sel kelamin. Sedangkan dewasa tubuh adalah di mana pertumbuhan otot-otot tubuh berkembang dengan baik dan sempurna. Oleh karena itu waktu (saat) mengawinkan ternak sapi yang baik untuk pertama kalinya adalah pada waktu ternak sapi tersebut telah dewasa kelamin dan dewasa tubuh yaitu pada umur antara 15-18 bulan.
Seekor ternak sapi baik dara maupun induk di saat menjelang birahi akan melalui 4 (empat) tahap yaitu: pertama, pro oestrus. Tahap ini berlangsung 1-2 hari di mana folikel primer pada ovarium menghasilkan testoteron (hormon jantan) yang menyebabkan sapi betina berperilaku seperti sapi jantan. Di saat ini sapi betina memperlihatkan tingkah laku seperti menaiki temannya, diam jika dinaiki, gelisah dan agresif, menanduk dan melenguh.

sapi betina produktif
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI DENGAN SISTEM PERKAWINAN INSEMINASI BUATAN (IB)
Oleh : Sabir Tato (Widyaiswara BBPP Batu)
Peternak
sapi di Indonesia sebagian besar masih dalam usahatani ternak sapi
secara tradisional bahkan dianggap sebagai tabungan serta usaha
sampingan. Disisi lain produktivitas ternak sapi potong maupun sapi
perah beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun.
Sementara di lain pihak pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan
rata-rata 1,5 persen per tahun dan pertumbuhan ekonomi meningkat dari 2
sampai 6 persen, maka diperkirakan permintaan daging dan susu akan terus
meningkat.
Keadaan seperti ini bila tidak dilakukan upaya untuk meningkatkan populasi dan produksi, maka tidak akan dapat memenuhi permintaan kebutuhan daging dan susu sapi dalam negeri. Oleh karena itu diperlukan upaya memotivasi peternak dalam pemeliharaan ternak yang lebih maju dan menguntungkan melalui pembinaan yang dapat meyakinkan. Pemeliharaan ternak bukan bukan lagi hanya dianggap sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan, melainkan sudah dikelola dengan baik menuju kearah yang lebih maju dangan harapan peternak dapat mengerti dan menyadari arti pentingnya produktivitas ternak.
Untuk menyikapi hal tersebut, salah satu upaya untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak sapi dapat dilakukan melalui kawin suntik yang dalam bahasa ilmiahnya adalah Artificial Insemination atau Inseminasi Buatan (IB). Hal tersebut adalah sebagai salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak, sehingga dapat menghasilkan keturunan/ pedet dari bibit pejantan unggul yang sekaligus dapat program swasembada daging 2010 yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 6 April 2007 di Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat sebagai tindak lanjut Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
Keadaan seperti ini bila tidak dilakukan upaya untuk meningkatkan populasi dan produksi, maka tidak akan dapat memenuhi permintaan kebutuhan daging dan susu sapi dalam negeri. Oleh karena itu diperlukan upaya memotivasi peternak dalam pemeliharaan ternak yang lebih maju dan menguntungkan melalui pembinaan yang dapat meyakinkan. Pemeliharaan ternak bukan bukan lagi hanya dianggap sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan, melainkan sudah dikelola dengan baik menuju kearah yang lebih maju dangan harapan peternak dapat mengerti dan menyadari arti pentingnya produktivitas ternak.
Untuk menyikapi hal tersebut, salah satu upaya untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak sapi dapat dilakukan melalui kawin suntik yang dalam bahasa ilmiahnya adalah Artificial Insemination atau Inseminasi Buatan (IB). Hal tersebut adalah sebagai salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak, sehingga dapat menghasilkan keturunan/ pedet dari bibit pejantan unggul yang sekaligus dapat program swasembada daging 2010 yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 6 April 2007 di Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat sebagai tindak lanjut Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
Inseminasi Buatan
Inseminasi
Buatan (IB) atau dalam istilah ilmiahnya disebut Artificial
Insemination (AI) merupakan sistem perkawinan pada ternak sapi secara
buatan yakni suatu cara atau teknik memasukkan sperma atau semen kedalam
kelamin sapi betina sehat dengan menggunakan alat inseminasi yang
dilakukan oleh manusia (Inseminator) dengan tujuan agar sapi tersebut
menjadi bunting. Semen adalah mani yang beradal dari sapi pejantan
unggul yang dipergunakan untuk kawin suntik atau inseminasi buatan.
Inseminator
Inseminator merupkan petugas yang telah dididik dan lulus dalam latihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik serta memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi (SIMI). Selain inseminator dari pemerintah ada juga inseminator mandiri yang berasal dari khalayak peternak atau masyarakat yang telah memperoleh pelatihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik.
Inseminator merupkan petugas yang telah dididik dan lulus dalam latihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik serta memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi (SIMI). Selain inseminator dari pemerintah ada juga inseminator mandiri yang berasal dari khalayak peternak atau masyarakat yang telah memperoleh pelatihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik.
Tujuan Inseminasi Buatan
Tujuan perkawinan sapi dengan sistem inseminasi buatan adalah:
Meningkatkan mutu ternak lokal;
Mempercepat peningkatan populasi ternak;
Menghemat penggunaan pejantan:
Mencegah adanya penularan penyakit kelamin akibat perkawinan alam;
Perkawinan silang antar berbagai bangsa / ras dapat dilakukan.
Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
Tujuan perkawinan sapi dengan sistem inseminasi buatan adalah:
Meningkatkan mutu ternak lokal;
Mempercepat peningkatan populasi ternak;
Menghemat penggunaan pejantan:
Mencegah adanya penularan penyakit kelamin akibat perkawinan alam;
Perkawinan silang antar berbagai bangsa / ras dapat dilakukan.
Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
Sistim
perkawinan sapi dengan IB adalah Salah satu strategi yang perlu
dilakukan untuk mewujudkan tercapainya program swasembada daging 2010
dan kecukupan susu nasional, dapat dilakukan melalui percepatan
peningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi dengan menyediakan
bakalan dalam rangka penggemukan sapi potong dan bibit sapi perah,
melalui penyediaan bakalan atau keturunan dari hasil kawin suntik dengan
menggunakan semen dari sapi pejantan unggul yang memenuhi syarat teknis
reproduktif, maupun kesehatan , atau telah lulus dari uji ferformans
dan uji zuriat oleh instansi yang berwenang.
Melalui kegiatan kawin suntik atau inseminasi buatan, penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah, mudah dan cepat, serta memudahkan peternak untuk mendapatkan keterunan ternak sapi yang berkualitas genetik tinggi dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas ternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak.
Dalam kegiatan kawin suntik pada ternak sapi ini memberikan beberapa keuntungan antara lain; (1) menghemat biaya pemeliharaan pejantan; :biaya relatif murah untuk mendapatkan bibit sapi yang bagus /unggul dalam bentuk semen, jadi tidak perlu membeli sapi pejantan yang harganya relatif mahal; (2) dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;(3) mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina; (4) dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang baik sehingga sperma /semen dapat disimpan dalam janka waktu lama; (5) semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; (6) cepat menghasilkan pedet jantan yang dapat dimanfaatkan untuk bakalan sapi potong atau pedet betina sebagai bibit sapi perah; (7) menghasilkan generasi baru anak bakalan penghasil daging yang berkualitas (sapi potong) dan meningkatklan produksi susu pada sapi perah betina; (8) Perbaikan mutu genetik lebih cepat;; (9) Dapat memilih jenis/bangsa ternak Sapi yang diinginkan ( Limousin, Simental, Peranakan Ongole, Brahman, Brangus, FH, Bali dan lain-lain); (10) Berat lahir lebih tinggi dari pada hasil kawin alam; (11) Pertumbuhan berat badan lebih cepat; (12) Meningkatkan Pendapatan Petani.
Melalui kegiatan kawin suntik atau inseminasi buatan, penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah, mudah dan cepat, serta memudahkan peternak untuk mendapatkan keterunan ternak sapi yang berkualitas genetik tinggi dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas ternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak.
Dalam kegiatan kawin suntik pada ternak sapi ini memberikan beberapa keuntungan antara lain; (1) menghemat biaya pemeliharaan pejantan; :biaya relatif murah untuk mendapatkan bibit sapi yang bagus /unggul dalam bentuk semen, jadi tidak perlu membeli sapi pejantan yang harganya relatif mahal; (2) dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;(3) mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina; (4) dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang baik sehingga sperma /semen dapat disimpan dalam janka waktu lama; (5) semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; (6) cepat menghasilkan pedet jantan yang dapat dimanfaatkan untuk bakalan sapi potong atau pedet betina sebagai bibit sapi perah; (7) menghasilkan generasi baru anak bakalan penghasil daging yang berkualitas (sapi potong) dan meningkatklan produksi susu pada sapi perah betina; (8) Perbaikan mutu genetik lebih cepat;; (9) Dapat memilih jenis/bangsa ternak Sapi yang diinginkan ( Limousin, Simental, Peranakan Ongole, Brahman, Brangus, FH, Bali dan lain-lain); (10) Berat lahir lebih tinggi dari pada hasil kawin alam; (11) Pertumbuhan berat badan lebih cepat; (12) Meningkatkan Pendapatan Petani.
-
Berat Lahir Rata-rata Sapi hasil IB dibandingkan dengan Sapi Lokal

Kunci Keberhasilan Program IB
Kunci keberhasil program IB tergantung dari 3 unsur yaitu:
1) Kinerja inseminator,
Kinerja Inseminator sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program IB dilapangan, untuk itu seorang inseminator perlu menjiwai tugas dan tanggung jawabnya yaitu; (1) melakukan identifikasi akseptor IB (sapi betina produktif) dan mengisi kartu peserta IB; (2) membuat program / rencana birahi ternak akseptor berdasarkan siklus birahi (kalender reproduksi) di wilayah kerjanya; (3) melaksanakan IB pada ternak; (4) membuat pencatatan (recording) dan laporan pelaksanaan IB dan menyampaikan kepada pimpinan Satuan Pelayanan IB melalui pemeriksaan kebuntingan (PKB) setiap bulan; (5) melaksanakan pembinaan kelompok tani ternak atau Kelompok Peternak Peserta Inseminasi Buatan (KPPIB) dan kader inseminator; (6) membentuk kegiatan pengorganisasian pelayanan IB./ Unit Pelayanan Inseminasi Buatan (ULIB) (7) berkoordinasi dengan petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB) dan Asisten teknis Reproduksi (ATR)
2) Kondisi Akseptor
Agar program kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) dapat berhasil dengan baik, kondisi Akseptor (sapi betina produktif peserta IB) perlu diperhatikan. Adapun kondisi akseptor yang baik adalah:
- Sehat, Fisik besar dan kuat,
- Ambing besar dan elastis,
- Puting sempurna (4 bh) dan letaknya simetris dan agak panjang.
- Perut besar
- Tulang pinggul lebar
- Vulpa besar, licin. Mengkilat, cembung dan tidak berbulu,
Umur minimal 18 bulan
Untuk sapi yang berbadan kecil seperti sapi bali, IB sebaiknya dilakukan setelah kelahiran anak pertama hasil perkawinan secara alami.
Untuk sapi yang telah melahirkan, perkawinan selanjutnya dilakukan setelah 2-3 bulan kemudian.
3) Peternak
Untuk mendukung terlaksananya program IB, peran para peternak sapi sangat dibutuhkan terutama dalam hal :
- deteksi birahi / pengenalan terhadap tanda-tanda birahi
- sistim pelaporan yang tepat, terutama laporan birahi kepada inseminator
- perawatan akseptor dan pedet hasil IB
4) Kelompok Peternak Peserta IB (KPPIB)
Keberadaan KPPIB dalam pelaksanaan program IB sangat diperlukan guna mempermudah arus informasi dan teknologi, penyediaan sarana dan prasarana IB seperti Kandang penanganan (kandang jepit) dan lain sebagainya.
Saat ini kegiatan kawin suntik pada ternak sapi telah banyak dilakukan secara swadaya, sehingga untuk mendapatkan pelayanan kawin suntik pada ternak sapi, peternak dapat membiayai sendiri. Sedangakn untuk mendapatkan informasi pelayanan kawin suntik pada ternak sapi dapat menghubungi inseminator yang berada di wilyah setempat, dan apabila tidak ada inseminator dapat meminta informasi baik kepada dokter hewan/mantri hewan/ penyuluh pertanian setempat maupun ke dinas peternakan kabupaten /kota atau dinas yang membidangi peternakan.
Pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi sebaiknya dilakukan secara terorganisir dalam kelompok untuk memudahkan pelaksanaan secara efisien dan efektif. Untuk menyikapi hal ini , sebelum pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi harus mensinkronkan birahi sapi-sapi yang akan dikawin suntik dapat dilakukan lebih dahulu dengan penyuntikan hormon prostaglandin, Reprodin atau semacamnya pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sapi secara serempak sehingga dapat dilakukan kawin suntik pada ternak sapi di kelompok tani ternak secara bersamaan.
Untuk memudahkan petani peternak mengetahui ternak sapinya birahi dan segera dapat melaporkan ke inseminator atau penyuluh untuk mendapat pelayanan kawin suntik secara tepat , ada beberapa tanda-tanda birahi yang perlu diketahui oleh peternak antara laiin: (1) sering menguak; (2) gugup dan agresif; (3) menaiki sapi lain; (4) kurang nafsu makan dan kurang menghasilkan susu; (5) lebih awal bangun dari sapi-sapi lainnya; (6) alat kelamin betina basah, bengkak, merah, hangat (Abuh, Abang, Angat yang disingkat 3 A) dan mengeluarkan lendir yang transparan.
Dalam mewujudkan keberlanjutan kegiatan kawin suntik pada ternak sapi yang lebih menguntungkan dan penanganan khusus peranakan sapi unggul, selain diperlukan peran aktif inseminator dan petugas Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi Peternakan dalam pembinaan kelompok tani ternak diperlukan juga peran aktif para penyuluh pertanian sebagai mitra petani.
Peran Penyuluh Pertanian dalam mensukseskan program kawin suntik atau inseminasi buatan, antara lain: (1) memotivasi peternak agar terorganisir dalam kelompok, untuk medahkan baik penyuntikan hormon prostaglandin/ Reprodin pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sehingga dapat dilakukan pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi secara bersamaan; (2) memberikan informasi cara-cara beternak sapi potong dan sapi perah yang baik termasuk pemberian pakan yang bermutu sesuai kebutuhan ; (3) memberikan informasi cara penenganan kesehatan anak dan induk sapi untuk mengoptimalkan pertumbuhan/ pertambahan berat badan pada ternak sapi potong dan produksi susu pada ternak sapi perah betina.
1) Kinerja inseminator,
Kinerja Inseminator sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program IB dilapangan, untuk itu seorang inseminator perlu menjiwai tugas dan tanggung jawabnya yaitu; (1) melakukan identifikasi akseptor IB (sapi betina produktif) dan mengisi kartu peserta IB; (2) membuat program / rencana birahi ternak akseptor berdasarkan siklus birahi (kalender reproduksi) di wilayah kerjanya; (3) melaksanakan IB pada ternak; (4) membuat pencatatan (recording) dan laporan pelaksanaan IB dan menyampaikan kepada pimpinan Satuan Pelayanan IB melalui pemeriksaan kebuntingan (PKB) setiap bulan; (5) melaksanakan pembinaan kelompok tani ternak atau Kelompok Peternak Peserta Inseminasi Buatan (KPPIB) dan kader inseminator; (6) membentuk kegiatan pengorganisasian pelayanan IB./ Unit Pelayanan Inseminasi Buatan (ULIB) (7) berkoordinasi dengan petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB) dan Asisten teknis Reproduksi (ATR)
2) Kondisi Akseptor
Agar program kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) dapat berhasil dengan baik, kondisi Akseptor (sapi betina produktif peserta IB) perlu diperhatikan. Adapun kondisi akseptor yang baik adalah:
- Sehat, Fisik besar dan kuat,
- Ambing besar dan elastis,
- Puting sempurna (4 bh) dan letaknya simetris dan agak panjang.
- Perut besar
- Tulang pinggul lebar
- Vulpa besar, licin. Mengkilat, cembung dan tidak berbulu,
Umur minimal 18 bulan
Untuk sapi yang berbadan kecil seperti sapi bali, IB sebaiknya dilakukan setelah kelahiran anak pertama hasil perkawinan secara alami.
Untuk sapi yang telah melahirkan, perkawinan selanjutnya dilakukan setelah 2-3 bulan kemudian.
3) Peternak
Untuk mendukung terlaksananya program IB, peran para peternak sapi sangat dibutuhkan terutama dalam hal :
- deteksi birahi / pengenalan terhadap tanda-tanda birahi
- sistim pelaporan yang tepat, terutama laporan birahi kepada inseminator
- perawatan akseptor dan pedet hasil IB
4) Kelompok Peternak Peserta IB (KPPIB)
Keberadaan KPPIB dalam pelaksanaan program IB sangat diperlukan guna mempermudah arus informasi dan teknologi, penyediaan sarana dan prasarana IB seperti Kandang penanganan (kandang jepit) dan lain sebagainya.
Saat ini kegiatan kawin suntik pada ternak sapi telah banyak dilakukan secara swadaya, sehingga untuk mendapatkan pelayanan kawin suntik pada ternak sapi, peternak dapat membiayai sendiri. Sedangakn untuk mendapatkan informasi pelayanan kawin suntik pada ternak sapi dapat menghubungi inseminator yang berada di wilyah setempat, dan apabila tidak ada inseminator dapat meminta informasi baik kepada dokter hewan/mantri hewan/ penyuluh pertanian setempat maupun ke dinas peternakan kabupaten /kota atau dinas yang membidangi peternakan.
Pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi sebaiknya dilakukan secara terorganisir dalam kelompok untuk memudahkan pelaksanaan secara efisien dan efektif. Untuk menyikapi hal ini , sebelum pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi harus mensinkronkan birahi sapi-sapi yang akan dikawin suntik dapat dilakukan lebih dahulu dengan penyuntikan hormon prostaglandin, Reprodin atau semacamnya pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sapi secara serempak sehingga dapat dilakukan kawin suntik pada ternak sapi di kelompok tani ternak secara bersamaan.
Untuk memudahkan petani peternak mengetahui ternak sapinya birahi dan segera dapat melaporkan ke inseminator atau penyuluh untuk mendapat pelayanan kawin suntik secara tepat , ada beberapa tanda-tanda birahi yang perlu diketahui oleh peternak antara laiin: (1) sering menguak; (2) gugup dan agresif; (3) menaiki sapi lain; (4) kurang nafsu makan dan kurang menghasilkan susu; (5) lebih awal bangun dari sapi-sapi lainnya; (6) alat kelamin betina basah, bengkak, merah, hangat (Abuh, Abang, Angat yang disingkat 3 A) dan mengeluarkan lendir yang transparan.
Dalam mewujudkan keberlanjutan kegiatan kawin suntik pada ternak sapi yang lebih menguntungkan dan penanganan khusus peranakan sapi unggul, selain diperlukan peran aktif inseminator dan petugas Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi Peternakan dalam pembinaan kelompok tani ternak diperlukan juga peran aktif para penyuluh pertanian sebagai mitra petani.
Peran Penyuluh Pertanian dalam mensukseskan program kawin suntik atau inseminasi buatan, antara lain: (1) memotivasi peternak agar terorganisir dalam kelompok, untuk medahkan baik penyuntikan hormon prostaglandin/ Reprodin pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sehingga dapat dilakukan pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi secara bersamaan; (2) memberikan informasi cara-cara beternak sapi potong dan sapi perah yang baik termasuk pemberian pakan yang bermutu sesuai kebutuhan ; (3) memberikan informasi cara penenganan kesehatan anak dan induk sapi untuk mengoptimalkan pertumbuhan/ pertambahan berat badan pada ternak sapi potong dan produksi susu pada ternak sapi perah betina.
Waktu Inseminasi Buatan (IB) yang tepat
Pada umumnya, lama birahi pada sapi adalah rata-rata 18 jam dan untuk mendapatkan hasil yang baik, sebaiknya dilakukan IB pada pertengahan masa birahi.
WAKTU YANG TERBAIK MENGAWINKAN SAPI / IBPada umumnya, lama birahi pada sapi adalah rata-rata 18 jam dan untuk mendapatkan hasil yang baik, sebaiknya dilakukan IB pada pertengahan masa birahi.

BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG
1. SEJARAH SINGKAT
Sapi yang ada sekarang ini berasal dari
Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis
primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang
banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan
di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara
Barat (NTB), Sulawesi.
2. SENTRA PETERNAKAN
Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO
(peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa
Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak
terdapat di Skotlandia.
Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.
3. J E N I S
Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di
Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor.
Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat
yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu)
maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan
sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole)
dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia
(Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya
dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan
Brahman.
Sapi Bali berat badan mencapai 300-400
kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia)
bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan
dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg,
sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental
(Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau
kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir,
ujung ekor berwarna putih.
Sapi Brahman (dari India), banyak
dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini
tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan
(rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang
jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan
caplak dan nyamuk serta tahan panas.
4. MANFAAT
Memelihara sapi potong sangat
menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi
juga menghasilkan pupuk kandang dan
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat
digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis,
karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan.
Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur
tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.
Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan
3) Tanduk, digunakan sebagai bahan
kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi
bagi kepentingan manusia.
5. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun
kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk
tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah
tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat
menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian.
Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau
ladang.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda
atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang
tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu
jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan
pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang.
Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan
penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas
ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan
penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih
luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih
banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap
bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari
tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai
tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan
yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan
desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor
sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi
betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor,
dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang
25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi
pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga
dataran tinggi (> 500 m).
Kandang untuk pemeliharaan sapi harus
bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa
persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan
perlengkapan kandang.
1) Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah
kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring.
Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya
dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar
air yang tampak, termasuk kencing
sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan
tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.
2) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya
diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran
kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan
untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak
sapi cukup 1,5x1 m.
3) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang
adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang,
tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar
pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air
minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih
tinggi dari pada permukaan lantai.
Dengan demikian kotoran dan air kencing
tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan
adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi.
Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi
terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan
sapi.
6.2. Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
2) Matanya tampak cerah dan bersih.
3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.
Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe
sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi
yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi
potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
2) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
3) laju pertumbuhannya relatif cepat.
4) efisiensi bahannya tinggi.
6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup
penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam
pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
Pakan merupakan sumber energi utama
untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah
pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih
besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif
sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara
pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena
sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
2. Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan
makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui,
dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas
maupun kuantitasnya.
Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3
cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot
faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.
Penggembalaan dilakukan dengan melepas
sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang
mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar
5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan
pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.
Pakan dapat diberikan dengan cara
dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang
dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap
hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya
dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa
dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang
diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain
itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus.
Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu
ini dikenal dengan istilah ransum.
Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar,
hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan,
kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang
baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass),
daun turi, daun lamtoro.
Hijauan kering berasal dari hijauan
segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih
lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang
tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau.
Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.
Hijauan segar dapat diawetkan menjadi
silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai
berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi
proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase.
Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung,
silase rumput, silase jerami padi, dll.
3. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar
mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk
kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup
rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia
setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang
tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar
pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran.
Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen
dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula
peralatan untuk memandikan sapi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah
dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar
dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah
berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus
dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6)
limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui
kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain
yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan
telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi
cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis;
(3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur
keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput
lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus,
dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan
perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas
sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan
mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku
bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas;
(3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan
akhirnya bisa lumpuh.
7.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling
baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan
pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
8.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.
9. PASCA PANEN
9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3. Pemotongan ternak harus dilakukan
secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil
mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
9.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah
disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir
agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda
darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat
perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan
terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar
matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut
(visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan
cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
9.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong
adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga
recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi
dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot
tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging
yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi
yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh
karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi
manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang
akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong.
Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap
steer, heifer dan cow yang akan dipotong.
Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu
karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas
dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang,
rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen
daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat
penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas
dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran
mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.
Daging dari karkas mempunyai beberapa
golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh.
Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang
lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang
17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib)
kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih
kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang
5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh
adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate
& suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian
kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari
karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).
Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %
Istilah untuk sisa karkas yang dapat
dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut
inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain
yang tidak dapat dimakan).
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp. 48.750.000,-
b. Kandang Rp. 1.000.000,-
c. Pakan
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,-
d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-
2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan >Rp. 75.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-
2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg
Rp. 111.110.000,-
b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp. 1.095.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-
3) Keuntungan
a. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. Rp. 42.897.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
a. B/C ratio = 1,61
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi
yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini
sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah
tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau.
Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan
Jakarta.
Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :
a) Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen
rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang
paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari
konsumsi total.
Sumber :
Balai Penyuluh Kecamatan Tayu Kab.Pati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar